Senin, 26 Juli 2010

The Rope chapter 2


Satu Sayapnya Patah, Maka Burung Itu Pun Murung

Cahaya hangat matahari pagi menerobos pepohonan yang tumbuh merindang, menaungi hamparan batu-batu berukir nama. Nama-nama yang berdiam tenang, istirahat tak terusik oleh kidung ratapan yang terdengar semayup di ujung hamparan batu-batu itu. Sepetak hamparan kecil dengan lubang yang menganga, menelan perlahan-lahan pembaringan kayu bersahaja milik seorang wanita berambut pirang panjang berombak, wanita yang memiliki senyum terhangat dan terindah yang pernah dilihat oleh seorang Richard dalam hidupnya. Senyum yang kekal, tak dinyana adalah senyum seorang wanita fana.

Richard memandangi peti yang masuk perlahan ke dalam liang. Suara pendeta yang dengan khidmatnya melantunkan pujian kepada Tritunggal kudus serta doa untuk Regina yang tertidur amat pulas, menggema dan mengharu birukan para saksi-saksi pemakaman. Sesengguk tangis terdengar di kanan dan di kiri Richard. Namun ia tetap berdiri tenang dan berupaya untuk tabah. Kemudian dipandanginya Gabriel yang sedang tertidur di dalam gendongannya. Segaris senyum tersungging di wajahnya.

“Hei, Gabrielku. Jangan kau tertidur seperti mamamu itu. Pemalas sekali ia. Tak mau satu orang pun mengganggu tidurnya, ia putuskan untuk mengubur dirinya jauh di dalam sana supaya ia dapat tidur dengan tenang. Dan kau tak akan mengikuti yang demikian, benar kan?” Lirih Richard diselingi dengusan tawa. Richard mengelus alis Gabriel dengan telunjuknya, Gabriel pun menggeliatkan kepalanya sedikit. Seorang wanita yang menangis di belakang Richard tertawa kecil mendengar ucapan Richard kepada Gabriel.

Di sisi kiri Richard, Kakek Ian asyik sendiri bermain dengan Gabriela. Diciuminya Gabriela berkali-kali, pipinya yang gembil pun dicubitnya dengan pelan. Ia tak menghiraukan duka-duka yang dilayangkan untuk puteri satu-satunya itu. Apalah yang harus ia tangisi, karena ia percaya bahwa Regina tidak akan pernah mati. Hidupnya berlanjut dengan jalannya sendiri disana. Bahwa manusia tidak akan pernah lenyap, hanya tubuhnya saja yang terbaring kaku dan jiwanya tengah melalang menuju tuhannya.

“Deuce, my lad.” Kakek Ian menelengkan badannya dan berbisik kepada Richard, lalu kembali menimang-nimang Gabriela.

“Apanya yang deuce?” Richard mencondongkan badannya ke arah Kakek Ian. “Jangan bilang kau tidak tidur semalam dan memaksakan diri untuk menonton Liga Wimbledon kemarin malam.” Tanya Richard pelan.

“Bukan itu maksudku. Kita seri. Tak menyangka nasibmu sama naasnya denganku. Padahal aku bukan ayahmu, cuma mertua yang selalu menggerutu. Aku jadi ingat tigapuluh tiga tahun yang lalu. Tidak lebih dari seminggu semenjak melahirkan Regina, Irma langsung pergi tidur begitu saja. Pagi itu aku mengunjunginya di rumah sakit. Cahaya mataharinya terasa hangat dan menyinari wajah Irmaku yang tertidur damai. Kubangunkan, dia diam saja. Aku membawa Regina kecil dalam timanganku untuknya. Dia lebih memilih tidur untuk selama-lamanya. Pemalas, menyebalkan! Padahal aku sedang senang tak terkira.”

Kakek Ian menceritakan kisah masa lalunya kepada Richard. Aneh sekali ucapannya, tertidur pulas untuk selamanya, pemalas, menyebalkan! Tambah lagi, tawa-tawa ringan yang selalu ditunjukkan Kakek Ian saat ia bercerita. Seriang itukah Kakek Ian, meskipun ia hidup sendiri sepanjang usianya, hanya ditemani oleh anak semata wayangnya, Regina.

“Namun, kunilai nasibmu lebih tragis sebagai ayah baru. Tiga hari kau diam di rumah menanti istrimu, lalu ia pulang tak bernyawa, meninggalkanmu dan bayi-bayi ini. Mengganti baju dan popok-popok mereka. Uh, bisa kubayangkan betapa repotnya mengganti popok bayi, terlebih lagi jika mereka buang air besar.”

Setidaknya Kakek Ian dapat meringankan beban psikis Richard dengan candanya yang tidak tahu tempat itu. Suasana hatinya kontras dengan keadaan di pemakaman puterinya itu, namun tak bisa dipungkiri olehnya sendiri bahwa ia pun juga merasa teriris. Kehilangan hari ini membuatnya memanggil ingatan di suatu pagi yang cerah, dimana dengan wajah sumringahnya Kakek Ian berjalan menuju rumah sakit untuk mengunjungi Irma, istrinya yang sedang dirawat pasca persalinan. Sebelum menjenguknya di ruang rawat, Kakek Ian menyempatkan diri untuk mengambil Regina yang saat itu berusia lima hari dari ruangan bayi dan membawanya untuk Irma. Kakek Ian menyusuri selasar menuju ruang rawat Irma. Dibukanya pintu, Irma sedang tertidur, pikirnya saja. Kakek Ian mengelus pipinya dan membangunkan Irma, tak ada jawaban, hanya angin yang menghembuskan tirai-tirai tua kamar rawat itu. Kakek Ian tidak berujar apa-apa, meskipun selanjutnya Kakek Ian mengetahui bahwa Irma sudah “tertidur lelap”. Ia ingin berteriak, mengapa di saat seperti ini Irma meninggalkannya dan Regina. Dari mana lagi Regina akan menerima sesosok ibu pengharapannya untuk tumbuh. Semua itu terputar di dalam memori Kakek Ian layaknya film sepia tua yang enggan untuk dimainkan. “It seems like twilight in my life, Richard. My old memory is recalled. I decided not to remember that bittersweet memory, but it is recalled, Richard.” gumam Kakek Ian lemah.

Haru biru prosesi pemakaman berakhir dengan tangisan-tangisan dan langkah-langkah yang berlalu, meninggalkan Richard dan Kakek Ian, juga Gabriel dan Gabriela dekat pusara Regina yang sepi. Masih menggendong Gabriel, Richard berlutut memberi penghormatan terakhir untuk istrinya. Dikecupnya dalam-dalam batu pusaranya. Sebutir air mata menggelayut di ujung mata, menganak sungai jadi aliran air mata dengan sengguk pedih duka, Richard akhirnya menangis juga. Gabriel yang terdiam dalam timangan memandangi ayahnya. Tangannya yang bebas menggapai-gapai, seolah hendak menghapus sedih ayahnya itu.

“Ayo, Richard. Mari kita pulang. Jangan terlalu lama menangis, kau bisa kelelahan nanti. Lihat ini, setibanya di rumah kau bisa bermain dengan boneka-boneka kecil ini.” Kakek Ian menimang-nimang Gabriela. Dengan berat hati Richard beranjak dari pusara Regina.

“Maaf, Regina.” desahnya.

***

Rabu, 21 Juli 2010

The Rope chapter 1 (continue)


Setelah percakapan yang memakan waktu selama lima belas menit itu, Miss Kingley dan Richard kembali menuju ruang rawat Regina. Di dalam ruangan itu Regina dan Kakek Ian tengah berbincang tentang proses kelahiran yang memakan hampir seluruh tenaga Regina. Kakek Ian menggendong bayi yang dibungkus kain berwarna biru, Gabriela. Sedangkan bayi yang tertidur pulas di samping Regina terbungkus kain berwarna putih vanila, Gabriel. Miss Kingley masuk lebih dulu, disusul Richard. Ia tidak langsung masuk, malah berdiri di ambang pintu. Richard mengatur nafas dan emosinya. Ia tidak mau terlihat sedang sedih atau apapun yang akan membuat Regina bertanya mengapa air mukanya kusam.

“Lihatlah, dokter, mereka tertidur. Menggemaskan!” Kakek Ian masih menggendongi Gabriela.

“Tentunya.” sahut Miss Kingley. “Regina? Bagaimana? Sudah merasa cukup bertenaga?” Miss Kingley melemparkan senyum kepada Regina yang saat itu terlihat kelelahan. Muka dan bibirnya bertambah pucat saja. Mata birunya sendu dan meredup. Proses persalinan Jumat sore itu terasa seperti pencabutan nyawa yang keji.

“Oh, dokter. Aku baik-baik saja namun tak cukup bertenaga. Mungkin dengan kepulanganku ke rumah, aku bisa meningkatkan tenagaku lagi. Aku rindu rumah.” Jawabnya lemah.

“Maaf, Regina. Untuk tiga hari ke depan kau belum bisa pulang. Kami harus melihat dan mengamati perkembanganmu selepas persalinan dengan intensif. Selama persalinan kau mengeluarkan banyak sekali darah, belum lagi catatan medismu menunjukkan bahwa kau mengidap hemofilia.”

“Jadi, hari Minggu ia sudah bisa pulang?” Tanya Richard yang dari tadi diam tak bersuara, mematung di dekat pintu.

“Tentu, jika keadaannya mulai membaik. Aku harus memastikan bahwa Regina pulang dengan keadaan sehat. Ia harus menyusui kedua bayinya, bukan?”

“Uh, iya.” Richard hanya tersenyum kecil.

“Is everything okay, hon?” Regina mulai menangkap sinyal aneh dari wajah suaminya yang agak temaram. Baik Regina maupun Richard memiliki perasaan sensitif satu sama lain. Perubahan sedikit saja langsung terbaca, entah itu perubahan dalam sikap, tingkah laku, apapun itu.

Richard mendekati istrinya dan mengusap dahinya yang sedikit basah karena keringat. “I’m alright. Tidak apa-apa kok. Aku hanya cemas melihatmu yang terbaring begini. Lebih lagi aku tidak menemanimu selama proses kelahiran, jadi aku sedikit tahu tentang keadaanmu.” Lalu ia menggendong Gabriel yang masih tertidur. Tangan-tangannya yang mungil mengepal dan menempel di pipinya.

“Ease your worriness, Sir. Kami pastinya akan memulihkan kesehatan istrimu. Um, sebaiknya bayi-bayi ini kubawa ke ruang inkubator. Mereka masih rentan akan udara luar. Besok pagi kukembalikan mereka kepadamu. Mari, Richard.” Miss Kingley menjulurkan tangannya untuk menggendong Gabriel. Kakek Ian yang dari tadi menggendong Gabriela merasa tidak rela untuk melepasnya ke ruang inkubator. Dahinya yang keriput bertambah keriput lagi dengan alisnya yang berkerut.

“Benar, ya. Kau akan mengembalikan mereka kepada kami.” Lirih Richard dengan singkat. Matanya sayu menatap Gabriel dan Gabriela. Miss Kingley memperhatikan tingkah Richard. Pikirannya jadi ikut gundah, namun ia tetap menyunggingkan senyum untuk Richard dan Regina. Pintu membuka dan menutup, hanya Regina, Richard, dan Kakek Ian yang berada di ruangan itu.

“Aku mau bermain lagi dengan mereka. Sayang mereka sedang tidur. Besok pagi aku akan bermain dengan mereka seharian, pastinya mereka pun sudah kenyang tidur.” desah Regina diselingi tawa ringan. Senyumnya hanya segaris lemah, mungkin akan bertahan selama beberapa hari ini. Siapa yang tahu bahwa senyumnya terus tak lekang mengiringi bayi-bayinya hingga dewasa, bahkan ia sendiri tak tahu.

***

Kamis, 15 Juli 2010

The Rope chapter 1



Pikir Ini Sebuah Permulaan? Tidak!

Sudah satu jam setengah. Sofa krem di ruang tunggu rumah sakit itu tak lagi membuat tulang punggung Richard merasa nyaman. Satu jam memacu mobilnya dari Tararua Forest menuju rumahnya di pinggiran kota Wellington untuk melarikan Regina, istrinya, ke rumah sakit. Belum lagi terkena macet di jalan. Untung saja Regina dapat meneleponnya sebelum ia tak sadarkan diri di dapur. Hari itu sudah waktunya bagi Regina untuk melahirkan. Mungkin terlalu dini dari masa kandungan normal. Regina melahirkan pada usia kandungan tujuh bulan lebih dua minggu.

"How's my daughter?" seorang lelaki tua paruh baya dengan perawakan tinggi dan cukup kurus serta berambut putih menepuk pundak Richard. Kakek Ian, ayah dari Regina, mengagetkan Richard. Beliau baru tiba di rumah sakit setelah terjebak macet di dalam taksi selama hampir dua jam. Padahal rumahnya tak terlalu jauh dari rumah sakit. "Ya ampun, aku salah karena telah memutuskan untuk berangkat di sore hari. Aku lupa hari ini hari Jumat, dan di luar sana Wellington sudah menggila dengan kemacetan. Sudah dari jam berapa kau di sini?"

"Uh, aku di sini sudah sekitar satu jam lebih. Ada kebakaran hutan di Tararua Forest. Cukup besar. Aku baru bisa pulang setelah pemadam kebakaran datang. Tak lama Regina meneleponku. Ia ngomel karena aku selalu berada di luar jangkauan sinyal. Regina bilang bahwa tampaknya ia akan melahirkan."

"Dalam keadaan sakit dan gawat pun ia masih bisa mengomel." Kakek Ian tersenyum sambil mendengus tertawa. "Kembar, ya?"

"Begitulah. Aku juga sudah melihat sendiri lewat USG. Namun dokter bilang ini kembar yang tidak wajar. Kembar yang berbeda kelamin. Mereka besar dalam satu rahim namun berbeda plasenta."

"Ya, seminggu yang lalu Regina meneleponku. Ia mengagetkanku dengan kabar bayi kembar berbeda kelamin berada di perutnya. Terlambat. Namun katanya itu adalah kado untuk ulang tahunku." Dengan suara dalam dan berat, Kakek Ian bercerita tentang Regina yang menjerit kegirangan karena ada bayi kembar di dalam rahimnya. Mungkin bukan hanya karena bayi kembar itu. Regina menjerit kegirangan karena akhirnya ia bisa memberitahukan itu tepat di hari ulang tahun ayahnya yang ke-50.

Saat Richard dan Kakek Ian berada di tengah-tengah cerita, suara lantang tangisan bayi sontak membuat wajah mereka berdua mematung. Mereka terdiam selama kurang lebih tiga menit. Mereka berpandang-pandangan, terpaku, bibir Richard bergerak seakan ingin tersenyum. Lalu terdengar suara tangisan yang lebih lantang lagi. Kakek Ian tak dapat membendung tawanya. Tawanya yang dalam membahana ke sepanjang selasar rumah sakit. Richard tetap mematung. Air mata yang hangat merembes dari pelupuk mata bawah. Bibirnya tersenyum gemetar. "A new daddy is here. Congrats to ye!" Aksen khasnya terdengar jelas saat Kakek Ian mengucapkan selamat kepada Richard di tengah tawanya. Beliau mengguncang-guncang bahu Richard. Richard akhirnya dapat melumerkan perasaan kagetnya. Ia pun ikut tertawa senang.

Seorang suster berjalan menuju Kakek Ian dan Richard. Suster itu melempar senyum hangat. Bibirnya terbuka seakan ingin menyampaikan sesuatu. "Tak perlu kau tanya, Nona. Di sinilah ayah dari anak kembar itu."

"Really? Well, happiness be with you tonight. Istrimu sedang berpesta dengan anak-anaknya. Lelaki, dan perempuan! Paket langka!" Suster itu tertawa.

"Yeah. Kau benar! Terima kasih telah mengabari kami. Bisakah kami melihatnya?" Tanya Kakek Ian.

"Tunggulah sebentar barang lima menit. Nyonya Regina sedang dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Sebaiknya tuan-tuan ikut aku ke ruang disinfektan sebelum mengunjunginya."

Mereka pun mengikuti suster itu. Kebersihan sangatlah diutamakan demi kesehatan pasien. Maka dari itu setiap pengunjung diharuskan memakai baju jenguk dan disemprotkan cairan disinfektan. Bahkan mereka harus membungkus sepatu mereka.

***

"Lihatlah siapa ratu kita hari ini!" Kakek Ian langsung menghambur memeluk Regina. Richard mengikutinya dari belakang. Gantian ia yang memeluk Regina. Richard mengecup bibir Regina yang saat itu terlihat pucat. "Maaf, aku tak bisa menemani persalinanmu, Reggy."

"Aku tahu. Para juru rawat yang ikut membantu persalinanku mengumbar bisikan satu sama lain. Saat aku sedang mengejan, aku dapat mendengar mereka bergosip bahwa hutan di Tararua Forest terbakar."

"Your husband is a pioneer of the forest ranger, Reggy. Ia tahu bagaimana menangani masalah hutan yang terbakar dengan cepat." kata Kakek Ian. Bibir Regina yang pucat tersenyum lebar. "Dan karena itu aku menghadiahinya bayi kembar dan ini," Regina mencoba meraih kaset hitam kecil di atas meja. "Ini adalah rekaman persalinanku. Seorang perawat bersedia merekamkannya untukku."

Tak lama, pintu kamar rawat terbuka. Seorang perawat memakai baju jenguk biru dengan rambut terbungkus memasuki ruangan. Wajahnya separuh tertutup masker. Sang perawat membuka maskernya dan mengucapkan selamat kepada Richard, Regina, dan Kakek Ian. Richard melongo ke dalam keranjang dorong bayi. Di dalamnya dua makhluk mungil tertidur pulas. Makhluk kecil nan menggemaskan. Yang satu berambut cokelat dan yang satunya lagi berambut kuning pucat. Sebentar-sebentar mereka menguap dan menggeliat bersamaan. Richard tak bisa membedakan mana yang laki-laki dan mana yang perempuan.

"Yang cokelat rambutnya itu anak perempuanmu, Mr. Richard. Tangisannya kencang bukan main. Yang pirang adalah yang laki-laki, dan ia lahir lebih dulu. Nampaknya sang adik bakal lebih aktif dibanding kakaknya." Perawat itu tertawa pelan.

Richard berdiri di samping keranjang bayi. Diangkatnya bayi yang perempuan terlebih dulu. Sang suster membantu meletakkan bayi yang laki-laki ke gendongan Richard. Ia pun terlihat seperti memboyong dua semangka besar di tangannya, semangka yang bertangan dan berkaki. Bibirnya tersenyum lebar. Satu per satu diciuminya bayi-bayi itu. Mereka merasa geli dengan jenggot pendek Richard.

Tak ada yang bisa menuliskan rasa bahagia yang membuncah di dalam jiwanya. Ia menatapi bayi-bayinya bergantian. Tak henti-hentinya ia mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Tuhan yang telah menemani dan menyelamatkan persalinan istrinya itu, dan ia pun berterimakasih kepada Regina yang telah menghadiahinya dua bayi kembar yang putih merona kulitnya bak boneka porselen.

Tangan-tangannya dengan kokoh menimang kedua buah hatinya. Tangan-tangan seorang polisi hutan, yang biasa bekerja keras dari pagi hingga sore, kini dengan lembutnya menjaga kedua bayi yang terlena dalam buaian. Kedua bayi pun sepertinya amat merasa nyaman berada dalam dekapan seseorang yang berdada tegap dan lebar. Suara nafas dan jantung Richard bak irama ninabobo bagi mereka, seperti bayi kangguru yang terlelap di dalam kantong tidur induknya. Kemudian, dengan hati-hati ia meletakkan kedua bayinya di samping Regina.

"Mereka malaikat yang turun malam hari. Rupawan benar wajah mereka." Kakek Ian memandangi bayi-bayi itu. "Nama apa yang kalian akan berikan untuk makhluk lucu ini?" Aneh, entah karena kebetulan atau apapun itu, secara bersamaan Richard menyebutkan nama untuk sang bayi perempuan dan Regina menyebutkan nama untuk sang bayi laki-laki.

"Gabriela."

"Gabriel."

"Huh?" Kakek Ian bingung. "Nama apa dan untuk siapa? Kalian membingunganku dengan berbicara serempak."


"Gabriel untuk dia yang laki-laki, Gabriela untuk yang perempuan, daddy." Jawab Regina. "Nama yang mudah diingat, tinggal menambahkan nama belakang keluarga saja."

"Entahlah. Dari diriku, besan-besanku, kalian berdua, ditambah bayi-bayi ini, selalu saja dengan nama yang dimulai dengan huruf depan yang sama dan bunyi yang hampir mirip pula." Kakek Ian terkekeh sedikit. Beliau merasakan keunikan yang dimiliki keluarga ini. Mulai dari dirinya dan istrinya, Ian dan Irma, orang tua Richard, Jeremy dan Joanna, nama-nama itu disatukan bukan karena ada suatu kesengajaan.

Hampir semua pasangan dalam keluarga mereka memiliki huruf depan sama dan bunyi namanya yang hampir serupa. Mungkin ini seperti mitos yang beredar di kalangan keluarga, bahwa mereka dengan nama-nama yang terlihat mirip satu sama lain memiliki suatu ikatan khusus, ikatan batin yang kuat dan disatukan oleh suatu tali yang tak terlihat. Perilaku yang mereka tunjukkan tak ayal seperti sepasang manusia kembar, dan mereka juga memiliki kemampuan telepati meskipun tak sekuat yang dimiliki oleh saudara kembar karena mereka bukanlah saudara kembar, tentunya.

"Kenapa, Dad? Kau kurang berkenan dengan nama-nama itu?" Tanya Regina.

"Tidak sama sekali. Malah aku juga menginginkan nama-nama yang demikian. Semoga nama-nama itu menyatukan kakak adik ini dengan kuat. Tali yang tak terlihat terikat pada mereka, semoga menjadikan hubungan keluarga ini semakin kuat." Kakek Ian mengelus kepala bayi-bayi itu dengan lembut. Mereka masih tertidur pulas.

Seorang dokter yang mengurus persalinan Regina mengetuk pintu dan membukanya. Senyum yang indah namun sedikit dipaksakan tampak dari wajahnya yang putih dengan sedikit bercak cokelat di pipinya. “Selamat malam. Tampaknya kalian sedang berpesta dengan manusia-manusia kecil ini. Sudah diputuskan namanya?”

“Oh, tentu saja. Gabriel dan Gabriela.” Sahut Richard.

“Bolehkah aku menggendong yang laki-laki? Err…Gabriel namanya, bukan?”

“Oh, silahkan. Ini dia, Gabriel.” Richard mengangkat tubuh mungil bayinya dan memberikannya kepada sang dokter.

“Uh, lihatlah malaikat kecil ini. Pipinya gembil dan memerah. Rambutnya pirang, kupastikan ia mirip sepertimu, Nyonya Regina.” Dokter itu menimang-nimang Gabriel dengan sukacita. “How fair your babies are.” Gumam sang dokter. “Um, Tuan Richard? Bisakah Anda datang ke ruangan aku segera?” dokter itu bertanya. Richard langsung mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya. Gabriel diberikan pada Kakek Ian, lalu Richard pun pamit sejenak kepada Regina dan Kakek Ian untuk mengikuti dokter tersebut ke ruangannya.

Tibalah Richard di ruangan sang dokter. Bagian depan ruangan ditutupi dinding kaca buram, lantainya putih bersih. Richard dapat membaui wangi jeruk segar yang berasal dari pewangi ruangan yang terletak di meja pojok. Richard dipersilahkan duduk di sofa kulit sang dokter.

“Adakah yang ingin Anda sampaikan, dokter…”

“Miss Laura Kingley.”

“Okay, Miss Kingley. Ada sesuatu yang aku harus tahu?”

“Um,”

“Yes?”

“Sebelumnya aku minta maaf jika informasi ini mengganggu kesenangan Anda malam ini.” Miss Kingley menghentikan ucapannya. Dokter dengan rambut ikal merah tembaga itu terlihat grogi. Ia menggigit bibirnya sesekali.

“Bagaimana aku tahu bahwa informasi yang akan Anda berikan dapat mengganggu aku?”

“Ini, tentang bayi Anda, Sir.”

“Bayiku? Yang mana? Ada apa dengan mereka?” Richard mengerutkan alisnya. Mukanya terlihat bingung. Sejauh ini belum terpikirkan sesuatu yang negatif tentang bayi-bayinya. Namun, melihat gelagat dan ekspresi Miss Kingley yang demikian membuat Richard bertanya-tanya.

“Your Gabriel, Sir. Bayi lelaki Anda tidak terlalu sehat. Aku akan mengatakannya langsung dan terus terang.” Miss Kingley merendahkan suaranya. Mendengar hal ini, perasaan Richard sedikit terguncang. Ia berusaha menenangkan detak jantungnya yang mulai berdetak cepat. Sesuatu akan mengejutkan dia nantinya.

“Ya, sebaiknya Anda berkata terus terang, Miss Kingley.”

“Um, begini. Ada masalah pada jantungnya. Aku perhatikan saat Gabriel lahir, tangisannya pelan dan terdengar aneh. Saat itu aku menduga ada yang tak beres dengan bayi ini. Sebelum dibawa ke ruang rawat istri Anda, bayi-bayi itu aku diagnosa terlebih dulu. Bayi perempuan Anda normal-normal saja, namun ada keanehan pada jantung bayi laki-lakinya.” Miss Kingley berdiam diri sejenak, mengambil nafas pelan dan dalam.

Hati ayah mana yang tidak sedih mendengar bahwa anak mereka terlahir dengan keadaan tidak sehat. Terlebih lagi untuk ayah baru seperti Richard. Richard merasa labil, namun ia berusaha menekankan pada dirinya bahwa Gabriel adalah bayi yang baru lahir. Tak semua bayi lahir dengan sempurna. Jika ada kelainan pada Gabriel, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati bayinya itu. Richard mengambil nafas dalam-dalam dan mulai berbicara.

“Itu saja, Miss?”

“Tidak. Aku belum selesai. Jantung Gabriel tidak berkembang sempurna selama di dalam kandungan, sehingga ia tidak bisa mengalirkan darah dengan maksimal. Lebih lagi, selama dalam rahim, Gabriel membagi suplai makanannya secara berlebihan kepada Gabriela. Keadaan ini menjadikan Gabriel lahir dalam keadaan lemah.”

“Tapi, apa itu akan berdampak buruk baginya?”

“Mungkin tidak, untuk saat ini saja.”

“Untuk saat ini saja? Apa maksud Anda, Miss?”

“Sebagai dokter, sudah seharusnya aku membesarkan hati pasien beserta keluarganya. Namun, aku tak boleh menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya.”

“Maaf, Miss. Katakan saja. Apapun yang terjadi aku berusaha menerimanya dengan lapang dada.” Richard tak dapat berkilah dengan perasaannya. Ia mengakui bahwa pasti nantinya ia tidak bisa menerima kenyataan yang sebentar lagi akan dilontarkan dari bibir sang dokter. Seperti khayalan, Richard membayangkan Miss Kingley menarik nafas dalam-dalam dan mengepal tangan di pangkuannya, siap-siap meneriakkan sebuah kenyataan yang tak mau didengar Richard. Kemudian Miss Kingley meneriakkan kenyataan itu, dalam adegan lambat dan dengan suara yang dalam serta membulat.

“Gabriel terkena gagal jantung dan aku tak yakin kau masih bisa menimangnya dalam waktu lebih dari dua bulan. I am sorry.” Dengan cepat Miss Kingley mengutarakannya. Ia tak mau berlama-lama mengucapkan kalimat berita itu, yang tiap katanya terasa seperti peluru senapan mesin yang berkali-kali menghantam Richard. Ia hanya terdiam, menatapi mata cokelat Miss Kingley. Ruangan itu terasa dingin membeku.

Suara orang-orang yang lalu lalang di koridor luar melenyap perlahan. Mata abu-abu sayu Richard menusuk dalam, seolah berkata kepada Miss Kingley. Aku adalah ayah baru yang teramat bahagia karena dikaruniai bayi kembar. Laki-laki dan perempuan, bayangkanlah betapa senangnya aku! Dan bayangkanlah betapa sedihnya aku saat Anda berkata seperti itu, menghakimi perasaanku sebagai ayah baru. Tak kasihankah Anda padaku? Setidaknya berikan sedikit harapan untukku! Selamatkanlah Gabriel!

Miss Kingley tertunduk, ia tak tahan melihat mata Richard yang mulai berair. Richard memalingkan muka. Kabut kesedihan menggelapkan wajah tampan Richard. Rahangnya yang kokoh terlihat mengejang. Ia menggigit bibir bawahnya.

“Apa yang harus kukatakan bila istriku bertanya padaku?” lirihnya.

“Beritahu saja istrimu dengan pelan dan bijaksana. Aku yakin pastinya akan sulit bagi Regina untuk menerima kabar ini. Ia akan berpikir mengenai betapa susahnya persalinan yang ia alami, dan ia harus kehilangan salah satu dari bayinya.”

Richard menitikkan air mata mendengar hal itu. “Mengapa harus kehilangan. Bahkan Anda belum memvonis Gabriel, bukan? Anda hanya bilang bahwa Gabriel hanya bisa bertahan selama dua bulan saja. Bukan berarti tidak bisa diselamatkan, kan?”

“Bisa, tentu saja bisa. Maaf jika sebelumnya aku merasa pesimis, karena aku tak yakin akan keadaan Gabriel yang lemah. Untuk malam ini, Gabriel sebaiknya dimasukkan ke dalam inkubator untuk menstabilkan kondisi tubuhnya. Namun, jangan terlalu berharap, Richard.” Miss Kingley menggenggam tangan Richard dan meremasnya. “Who can deal with death? It is beyond our power. You can pay for health, but you can’t buy a soul.”

***