Senin, 16 Agustus 2010

Let Us Pray Tarawee




Ramadan has come! Who's excited?

Well, I am. I don't know why, but I think my Ramadan (this time) feels different from last year. There is something new, which I call 'the spirit of Ramadan' (the Christians have their Christmas spirit, why can't I have my own spirit?).

This is it!

To show my Ramadan spirit, here I share to you information related to Ramadan. Tarawee prayer, check this out...

Tarawih prayers are prayed in pairs of two and can be prayed in at least 20 raka‘āt according to the two major schools (Hanafis, Shafi'i) of islam. Some Hanbalis say it is 8 while others say it is 20. Malikis say that it is 36 while the Ahl al-Hadeeth say it is 8. Due to varying numbers, the number of prayers performed is broad in scope. This prayer is performed only during Ramadan of the Islamic calendar after Salāt of Isha'a. Muslims believe it is customary to attempt a khatm "complete recitation" of the Qur'an in Ramadan by reciting at least one juz' per night in tarawih. If someone does not know how to read Qur'an or cannot read it very well, they may recite salāt that they know. Tarawih prayers can therefore be considered optional, not mandatory.

This is the hadith about Tarawee (I take the longest one)

Narrated Abu Huraira: Allah's Apostle said, "Whoever prayed at night the whole month of Ramadan out of sincere Faith and hoping for a reward from Allah, then all his previous sins will be forgiven." Ibn Shihab (a sub-narrator) said, "Allah's Apostle died and the people continued observing that (i.e. Nawafil offered individually, not in congregation), and it remained as it was during the Caliphate of Abu Bakr and in the early days of 'Umar's Caliphate." 'Abdur Rahman bin 'Abdul Qari said, "I went out in the company of 'Umar bin Al-Khattab one night in Ramadan to the mosque and found the people praying in different groups. A man praying alone or a man praying with a little group behind him. So, 'Umar said, 'In my opinion I would better collect these (people) under the leadership of one Qari (Reciter) (i.e. let them pray in congregation!)'. So, he made up his mind to congregate them behind Ubai bin Ka'b. Then on another night I went again in his company and the people were praying behind their reciter. On that, 'Umar remarked, 'What an excellent Bid'a (i.e. innovation in religion) this is; but the prayer which they do not perform, but sleep at its time is better than the one they are offering.' He meant the prayer in the last part of the night. (In those days) people used to pray in the early part of the night."

Here is another hadith...

Narrated Abu Huraira: I heard Allah's Apostle saying regarding Ramadan, "Whoever prayed at night in it (the month of Ramadan) out of sincere Faith and hoping for a reward from Allah, then all his previous sins will be forgiven."


Muslim Sunni give their opinion about Tarawee prayer,

Sunni Muslims regard the Tarawih prayers as Sunnat al-Mu'akkadah, a salaat that was performed by the Islamic prophet Muhammad very consistently. Sunni Muslims believe tarawih is a Sunnah salat and may be performed at home if one is unable to attend a Masjid. According to this tradition, Muhammad initially prayed the tarawih in congregation during Ramadan but later discontinued this practice out of fear that Muslims would start to believe the prayers to be mandatory, rather than sunnah. During the time when Umar ibn al-Khattab was the Caliph, he reinstated the practice when there was no longer any fear of people taking it as something mandatory.


What my mind says about Ramadan....

Ramadan is the ninth month from Arabic calendar. The start of Ramadan shown by 'Hilal' or moon crescent. Since the new moon indicates the beginning of the new month, Muslims can usually safely estimate the beginning of Ramadan

There are disagreements each year however on when Ramadan starts. This stems from Saudi traditions to sight the moon with the naked eye and as such there are differences for countries on opposite sides of the globe. More recently however, some Muslims are leaning towards using astronomical calculations to avoid this confusion. However, many Muslims believe this is incorrect. Muslims are to sight the moon with their naked eye. If it is not sighted the first night, they would not fast the next day. They would however, fast the following day after that even if they can't see the moon.

Ramadan teaches us to be a diligent person. Praying at the exact time, iftar (break the fast) at sunset time, etc. Such unlucky for those who miss it, I mean, those who don't do sawm (shaum). Allah opens the Gate of Paradise widely, so why don't we 'come in' and plea for His mercy?

When the night is falling, seek not but only the peace at the Holy Night of Lailatul Qadar. Be thankful to Allah, for we are given the time to trod this Ramadan solemnly.

Ramadan mubarak to all my Muslim friends!
We are Muslim Brotherhood :D

Senin, 02 Agustus 2010

Zephyrus



Di kamar sempit ini, aku tenggelam dalam tumpahan buku-buku lamaku. Bukannya aku sedang asyik membaca, dari kemarin mama merepetiku supaya membenahi rak buku di kamarku. Jangan karena kamu udah kos, Nun, trus kamarmu dibiarin tak terurus, begitu omelannya. Usang, bau apek, berdebu, kertas yang berwarna kuning, khas buku jadul. Semua buku itu adalah buku-buku pelajaran dan catatan saat aku masih SMA.

Bruukk! Sebuah buku tebal jatuh dari rak atas dan menghantam pas di ubun-ubun. Keliyengan, aku meratap kesakitan. Buku sial apa yang menimpaku barusan?

Buku bersampul keras dengan desain yang glamor, bertuliskan huruf timbul emas “In Memory”. Buku tahunanku, aku membukanya kembali setelah dua tahun tertutup dan terbalut waktu. Aku seperti mendengar tawa riang dan renyah di tiap lembarnya. Di lembar berikutnya, tulisan besar membuka kembali kotak memoriku akan ketenaran enam gadis di sekolahku. Golden Girls: Tia, Nuri, Anun, Sita, Rara, dan Mina, membentuk satu deret posisi anggun. Tak ada yang lebih anggun dan emas seperti Mina, tubuh tinggi dengan rambut panjang melambai seperti daun nyiur.

Mom, begitulah kami selalu memanggilnya, hingga kami hampir lupa bahwa namanya adalah Mina. Minalah yang menciptakan Golden Girls. Sebelumnya kami adalah sekumpulan geek yang terasingkan. Semuanya berubah setelah kami memenangkan lima piala dan hadiah jutaan rupiah di sebuah perlombaan seni bergengsi antar SMA di kota kami. Famous menjadi label kami setelahnya. Ah, segalanya berkat Mom.

Mom amat baik dan berhati selayaknya seorang ibu, walau usianya masih belia. Jika ada problem hidup, kami lebih mempercayai Mom untuk membantu kami. Dengan sukarela badan Mom selalu menjadi peneduh panas jika kami sedang upacara atau berjalan-jalan di hari yang terik. Mom tak pernah mengakhiri seharipun tanpa membuat kami senang. Kami berlima menjulukinya Zephyrus, angin semilir menyejukkan.

Tak ada yang abadi, kejayaan Golden Girls pupus setelah kami lulus SMA. Kami terserak, bagai bebatuan meruntuh. Kejatuhan ini sebenarnya telah tampak saat meninggalnya Tia, setahun sebelum kelulusan. Ketenaran membuatnya angkuh. Berpacaran dengan anak walikota membuatnya jauh dari kami. Mom tak tinggal diam. Ia tahu bahwa Bram terlibat narkoba, dan ia tak mau Tia jatuh ke dalam lubang hitam Bram.

Angin semilir itu berubah menjadi angin badai. Kematian Tia menggalaukan hati Mom. Tia dikabarkan meninggal karena OD. Sidang dibuka untuk mengadili Bram yang diduga telah menyuntikkan heroin pada Tia. Tak ada vonis yang dijatuhkan, karena tak ada bukti yang memberatkannya.

Aku ingat tengah berjalan pulang dari sekolah bersama Mom melewati lapangan gersang dan sepi. Sepanjang jalan muka Mom terus murung. Ia tak bisa menerima kepergian Tia tanpa ada keadilan untuknya. “Anun, suatu hari Bram akan kuadili saat hidup. Biar Tuhan yang mengurusnya di neraka.” katanya sambil mendesah sedih.

Seorang lelaki melintas di lapangan itu. Tak terlihat jelas rupanya. Mom memicingkan mata lalu berdesis geram. “Bram…”

Hampir saja aku bisa meraih tasnya dan mencegah Mom berlari ke arah Bram. Terlambat, Mom melepas tasnya lalu berlari, memberangus Bram dari belakang layaknya singa hendak menerkam.

Dari kejauhan aku bisa melihat Mom sedang sibuk mengerjai ‘mangsanya’. Rambut kucirnya mengayun-ayun. Mom tak peduli saat itu ia masih mengenakan baju sekolah. Dengan cepat Mom menumbangkan Bram dengan jurus tinju standar dan menjepit tubuhnya. Bram tak dapat menandingi tubuh tinggi Mom.

“Heh, panjang umur ya! Bisa ongkang-ongkang kaki lo sekarang ya! Padahal seneng banget gua kalo lo bisa masuk bui. Sekalian mampus sama bokap lo yang korup!”

Semilir itu pun mengganas menjadi topan. Tak dikira Mom sedang menjambak Bram dan menampar pipinya hingga merah kebiruan. Itu bukan Mom, tapi setan yang merasuki tubuhnya. Aku berlari dan berusaha melerai. Mom makin beringas. Bram terpuruk dibawah jepitan lutut Mom. Perkelahian satu arah itu seperti tak berujung.

“Tuntut gua! Rahasia lo dan bapak lo bakal gua bongkar!” berangnya sambil meremas krah baju Bram. Akhirnya Mom berhenti juga. Suatu penutup yang tak terduga. Setelah berkelahi Mom membersihkan luka Bram dengan air minumnya. Tak ada luka serius, hanya pendarahan ringan pada bibir Bram.

*

“Maaf ya, kalau akhirnya kita harus bubar. Aku akan pergi ke Jakarta untuk kuliah. Tapi jangan sampai putus hubungan. Jangan lupa fesbukan bareng. Kapan-kapan main ke Jakarta.” Begitulah ucapan terakhir Mom kepada kami saat pesta perpisahan. Tak ada air mata yang menggantung di ujung bulu lentik matanya. Namun mataku, Nuri, Sita, dan Rara basah berbanjir air mata saat Mom memeluk kami berempat dengan lengan yang terbentang lebar.

Kami berempat mengantarnya ke bandara. Tak ada sanak keluarga yang mengantarnya, bahkan orang tuanya. Aku bingung, kemana mereka? Masalah hidupnya dan keluarganya, dua hal yang masih menyisakan misteri di benakku dan kawan-kawan. Kami tak pernah bertanya pada Mom perihal itu.

Kaki Mom mengantung dan terhenti sebelum masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Lalu ia berbalik. Suaranya yang dalam memanggil aku, Sita, Nuri, dan Rara. “Baru inget aku kalo pesawatnya delay, haha!” Mom memasang wajah bodoh. Aneh, dadaku berasa plong mengetahui keberangkatannya ditunda. Makasih Tuhan, masih mau memberikan waktu untuk kami.

Mom menghapus kebosanan kami dengan bernyanyi. Mom jago nyanyi, tapi paling ogah kalau diajak karoke. Ia lebih suka menyanyi lepas begitu saja. Kali itu Mom bersenandung lagu Thousand Times-nya Sami Yusuf. Liriknya amat mengena di hati. A thousand miles I’d run and walk, a thousand times I’d slip and fall, but for you I’d do it again a thousand times.

Tak ada lagi kawan sebaik dan sesahaja Mom. Mom baik, terlalu baik hingga kami tak mau melepasnya. Terlebih lagi diriku. Mom rela jika harus sakit untuk kami. Mom punya banyak energi cinta. Pada kamilah ia menumpahkan cawan hatinya yang penuh meluap.

Pesawat Mom tiba. Mom memberikan pelukan lebar pada kami untuk yang terakhir kalinya. Tak ada kabut sedih di matanya. Mom hanya berujar lirih.

“How time made us meet each other. Warm smile from afar, told me to approach you. From stranger then we befriended. It was only you and me, then the friendship grew in number. Each moment we cherish together, is a priceless gift. Peace be with you my dearest friends, in my heart you’ll remain.”

Sita tampak meringis kocak di sela mukanya yang sembap. Sita tak pandai berbahasa Inggris. Kami tertawa saat ia dengan polosnya bertanya pada Mom arti dari ujarannya.

Ya, sampai disitulah, dan kaki Mom melayang terbang meninggalkan tanah Surabaya. Awan membawanya jauh. Kami tak bisa merasakan Zephyrus lagi. Serasa hampa, tak berangin, kering, tanpa Mom.

*

Ampun, aku merusak buku tahunanku! Bercak air mata dimana-mana. Aku terhanyut dalam melodi masa yang memudar, melodi Zephyrus yang bertiup sendu. Mom, Anun kangen. Jika saja ada Mom, kami semua bisa bertemu. Tapi kami terberai waktu. Tak ada kabar darimu, begitu juga kawan yang lain. terakhir kali kutahu Rara melamar di sekolah modeling, Sita dan Nuri tak jelas kabarnya. Merekapun jarang aktif di facebook. Kukirim wall namun tak berbalas.

Hingga sekarang aku tak mendengar kabar dari Mom. Dulu terkadang Mom suka mengirim wall, katanya kuliahnya sibuk sekali. Mom menjadi ketua edukasi untuk anak yatim. Ah, Mom, kau selalu berputar dan menyebarkan kesejukan. Kau tumpahkan seluruh cinta dalam cawan hatimu untuk orang yang kau kasihi. Aku jadi berandai, adakah seorang lelaki yang ketumpahan cawannya? Aku tak pernah mendengar Mom jatuh cinta, apalagi punya pacar.

“Nun,” Mama membuyarkan lamunanku. “Jangan lupa, nanti siang kita mau pergi. Kakakmu kan wisuda hari ini? Cepet rapi-rapi ya.”

Gubrak! Aku benar-benar lupa kalau Mbak Asih mau diwisuda hari ini! Mana buku-buku belum beres? Ya sudah, kulemparkan saja selimutku ke atas tumpukan buku-buku itu. Tinggal sejam lagi, buru-buru kusambar handuk dari jemuran belakang. Hahaha! Kuselak Bapak yang berjalan gontai menuju kamar mandi. Maaf ya pak, Anun mandinya agak lama.

Pelataran parkir kampus Airlangga penuh sesak oleh mobil yang mengantar para wisudawan. Aku membantu Mbak Asih turun dari mobil. Ia tampak repot dengan sarung batik yang melilit ketat. Jalannya seperti penguin, aku terkikik melihat caranya berjalan. Belum lagi dengan sanggul yang membuat kepalanya seperti mengidap tumor. Ah, jahatnya aku.

Mbak Asih sudah masuk ke dalam gedung. Aku memilih di luar karena kutahu di dalam pasti panas. Mataku tertuju pada satu pohon berbatang besar dan berdahan rindang. “Hmm…bolehlah.” Dengan cuek aku selonjoran di bawahnya sembari meregangkan kaki. Angin semilir berputar rendah di depanku dan memainkan dedaunan kering. Dedaunan itu berputar dan merendah mendekati pusaran. Zephyrus, aku teringat Mom. Mom seperti semilir dan aku beserta kawan-kawan adalah dedaunannya.

Angin semilir itu terus berputar namun menjauh dariku. Mataku mengejarnya,. Jangan pergi, Zephyrus! Jangan pergi seperti Mom!

Angin itu pun menghilang. Namun kurasa angin itu muncul kembali dan berputar di sekitarku. Seorang wanita tengah berbincang dengan gadis berbaju biru dengan rambut terurai. Wajahnya putih berpendar lembut oleh sinar mentari. Nafasku tercekat.

“Mina!” seruku, namun gadis itu tak menoleh. Ah, mungkin bukan Mina dan itu paling cuma mimpi. Tapi kuyakin bahwa aku tak sedang bermipi siang ini. Segenap nafas kukumpulkan lalu memekik.

“MOM!”

Itu Mom! Mom langsung berlari ke arahku dan tak butuh waktu lama untuk kaget dan mematung saat melihatku. Mom berubah, penampilannya jauh lebih mature dan tentu saja tambah anggun. Namun aku masih bisa merasakan pelukan lebar yang ia berikan dua tahun lalu, masih sama. Tubuhnya makin tinggi dan langsing saja.

“Mom! Ya ampun kemana aja dua tahun ini?” Suaraku memekik saking senangnya. Mom tersenyum lebar.

“Aku masih ada di bumi kok.” katanya dengan nada bercanda. “Maaf ya kalo aku jarang fesbukan. Aku sibuk banget. Ini aja aku balik ke Surabaya karena lagi libur semester.”

“Tau nggak sih? Nun kangen baget sama Mom.” kataku sambil berurai air mata.

“Masak sih? Tiap waktu Nun bisa ketemu Mom kok? Mom juga bisa liat Nun. Tuh…” Mom menunjuk ke bawah. Dedaunan menari di seputaran angin kecil. “Zephyrus.” kata Mom singkat. Lalu Mom tak berujar lagi. Ia membiarkanku diam dan mencerna perkataannya. Angin terdapat dimana-mana. Aku bisa merasakan kesejukannya kapanpun aku mau. Bila aku kangen Mom, angin selalu membisikkan kabar darinya untukku.

“Mom kan lagi libur? Mau nggak kita jalan-jalan?”

“Sama anak-anak?”

“Sayangnya engga. Nun nggak tau dimana mereka sekarang.”

“Oh…” Mom menunduk sedih.

“Jangan sedih Mom, Nun bakal ajak Mom ke Bromo. Ntar malem gimana? Biar nyampe puncaknya pas subuh.”

“OK! Tapi kamu nginep di rumahku ya.” kata Mom semangat.

*

“Gimana Nun? Cowok Airlangga ada yang oke nggak?” bisik Mom saat kami tengah mendaki di pekatnya malam. Aku kesusahan mencari pijakan yang benar. Kurasakan pupil mataku berkontraksi dan membesar mencari cahaya. Tapi Mom berjalan tenang dan membuat pendakian itu terasa effortless. Ia memegangi tanganku dan berusaha menyelaraskan langkah denganku.

“Ah, si Mom kayak nggak tau cowok Surabaya aja. Asem-asem sepet kayak brem batangan.”

Mom tertawa. Dua tahun di Jakarta membuatnya lupa seperti apa rupa bujangan Surabaya. Selama pendakian itu Mom bercerita bagaimana kuliahnya di Jakarta. “Jakarta itu sama aja kayak Surabaya, cuma lebih sumpek. Cowoknya juga dikit yang sopan.”

Semburat subuh terlukis di atas horizon dengan warna jingga yang mendominasi warna indigo. Udara dingin makin dalam menusuk saat aku dan Mom menapaki puncak. Ternyata banyak orang sudah menunggu matahari terbit. Mom menarik tanganku dan berjalan ke gundukan batu di atas. Tak ada orang, titik yang amat sempurna untuk menyaksikan keindahan ilahi.

“Dua hari lalu Mom ziarah ke makam Tia.” kata Mom.

“Uh, udah tiga bulan Nun belum ngunjungin makamnya.” Aku meringkuk kedinginan di dekat kaki Mom yang masih berdiri. Dingin sekali di puncak itu. Yang aku heran, tanpa topi atau penghangat apapun, dan hanya jaket tebal yang membungkusnya, bagaimana Mom bisa berdiri menantang angin begitu?

“Dingin, Mom.”

“Udara dingin ini lebih hangat dari masa laluku.”

Mom menyambutku di pintu masa lalunya. Belum pernah Mom berkata tentang masa itu. Mungkin baru dan hanya diriku yang mendengarnya.

“Kau tahu, Nun? Aku ini anak tertua dari bocah-bocah di panti asuhan kelurahan kita. Sejak aku mulai bisa mandiri di usia tujuh tahun, aku membantu membesarkan bayi-bayi yang terbuang itu. Rasanya getir, di umur semuda itu aku dibebani tanggung jawab mengurus manusia kecil. Kebijaksanaanku dituntut. Pada usia itu kudapat naluri keibuanku. Ah, lucu sendiri jadinya bila mengingat dulu aku berputar bak angin puyuh mengurus bayi-bayi itu kesana-kemari.”

Aku menengadah tak percaya. Anak yatim? Ia pun menunduk dan memandangku.

“Yatim piatu, ya. Aku bisa besar begini karena bantuan para wanita di panti itu.” Mom seolah telah membaca pikiranku. “Mungkin cerita ini sudah cukup memenuhi rasa ingin tahumu. Kurasa kau tak perlu tahu banyak.”

Mom berdiri kokoh dengan rambut melambai bak pohon nyiur. Cahaya mentari merayap menyinari wajahnya. Mom, aku makin mengagumimu. Kau terlalu baik untuk seorang manusia. Tiap ujarmu bak sabda berseling canda. Aku berandai jika seorang lelaki tersedot ke dalam anginmu.

“Zephyrus.” ujarnya tiba-tiba. Aku mendelik bingung. “Bram, dia masuk ke dalam pusaranku. Lalu kuterbangkan ia bersama Zephyrus.”

“Maksudnya?”

“Ayahnya masuk penjara setahun lalu. Ibunya lari sama brondong. Aku menaruhnya ke panti rehabilitasi. Kuupayakan ia tak berlama-lama di panti itu, jadi kuadon betul dia dalam panti, seperti mengadon dodol yang berat dan lengket.”

“Jadi?”

“Dia sudah pulih seratus persen. Aku membantunya bangkit. Sekarang ia ada di Jepang menunaikan kuliahnya. Aku juga membantunya mendapat pacar.”

“Siapa?”

“Mina.”

Aku terbelahak liurku sendiri. Mom, Mina? Rasa terkejut, senang, aneh, teraduk satu. Mom, pintar sekali dirimu membuatku terkesima.

*


The Rope chapter 2 (continue)


Kamar baru itu sepi sunyi, hanya ditiduri oleh dua sosok mungil yang berbaring berdempetan dalam satu boks bayi. Gabriel sudah menutup matanya, namun Gabriela masih terbangun. Ia menggeliatkan kepalanya ke arah Gabriel. Gabriela menggerak-gerakkan bibirnya, membuka dan menutup, seperti ada percakapan batin antar bayi. Siapalah yang mengerti bahasa itu, bahasa tanpa suara, kecuali Gabriel dan Gabriela.

“Gabriel? Ada apa ini? Mengapa kita hanya berdua saja? Mana ibu?”

“Tidakkah kau tahu, Adik? Ibu sedang tidur di bawah sana. Ayahlah yang akan menemani kita sepanjang tidurnya Ibu.”

“Tapi aku sangat lapar! Teganya Ibu tertidur dan melupakan kita.” Gabriela mulai menangis. Tangisannya nyaring hingga terdengar ke dapur. Richard mendengar tangisan itu dan langsung bergegas menuju kamar Gabriel dan Gabriela.

“Sshh…jangan nangis. Kasihan Ayah. Karena Ibu akan tidur dalam waktu lama, Ayah jadi bersedih. Ayah jadi tak berteman.”

Gabriela tak peduli, ia terus meraung layaknya siren polisi yang kehabisan baterai, suaranya kecil dan memencit tak karuan. Richard langsung menggendong Gabriela sesampainya ia di kamar. “Sshh…what’s up, little girl? Are you hungry, huh? What do you want, milk, banana smoothie, or smoked beef sandwich? Grandpa is making some sandwich at the kitchen, wanna some? Come on, milk is better for you, since your mouth is too little to cram a sandwich.” Richard membawa Gabriela ke dapur, Gabriel pun yang terpejam ditinggal sendiri.

“Oh, sudah kukira kau yang menangis, Gabriela. Kenapa kau?”

“Si kecil ini lapar. Adakah sesuatu yang bisa ia minum? Susu, mungkin?”

“Aku tak akan memberikan susu insulinku kepadanya, Richard. Kita tak punya susu bayi di rumah ini. Oh, tunggu, aku akan pergi ke mini market di blok depan.”

Belum lagi Kakek Ian hendak mengambil mantelnya, suara bel pintu terdengar dari luar.

“Biar aku saja,” sahut Kakek Ian. “Uh, Richard, bisakah kau diamkan Gabriela sejenak? Atau bawalah ia ke kamar dulu. Ada tamu, tak enak bila rumah ini terdengar riuh.” Richard pun berlalu ke kamar bayi. Kakek Ian membukakan pintu dan ia sedikit terkejut begitu melihat tamu yang menekan bel pintu tadi.

“Hallo. Uh, Sir Ian? Maaf bila aku datang di saat yang tidak tepat. Aku yakin kau tengah beristirahat setelah hari yang melelahkan ini.” Rupanya Miss Kingley yang menjadi tamu pertama di hari berduka itu. Di tangannya terdapat satu kantong plastik putih berisi, entah apa isinya karena kantong itu masih terikat.

“Miss Kingley,” Kakek Ian tersenyum sumringah. “It’s good to see you! Masuklah, kau sama sekali tak mengganggu. Ayo, ayo, jangan sungkan. Mari kugantungkan jas Anda.” Miss Kingley menerawangkan pandangannya ke sudut-sudut rumah itu. Baru kali ini ia mengunjungi rumah Richard dan Regina, yang berada di komplek perumahan di tengah kota Wellington. Ia dapat mengendus bau daging asap yang terlalu lama digoreng. “Oh sial! Dagingku! Maaf, Miss Kingley, aku harus mematikan komporku dulu. Aku akan kembali setengah menit lagi. Duduklah dulu.” Kakek Ian langsung memacu menuju dapur.

Setelah ucapan terima kasih yang singkat, Miss Kingley merebahkan dirinya di sofa panjang kulit di ruang keluarga. Sayup terdengar olehnya suara tangisan bayi dari kamar yang terletak di ujung ruangan. Tak lama, Kakek Ian kembali dari dapur.

“Maaf, Miss. Aku tengah membuat sandwich. Apakah kau mau satu?”

“Oh, no thanks. Ini, aku tahu kalian pasti akan membutuhkannya.” Miss Kingley menyodorkan plastik putih yang masih terikat. “Apa ini?” Tanya Kakek Ian. “Bukalah, itu semua untuk bayi Gabriel dan Gabriela.” Dibukanya plastik putih itu, dan di dalamnya terdapat tiga kotak susu khusus untuk bayi berusia kurang dari sebulan. Lalu terdapat beberapa penganan ringan dan macam-macam sayuran dan buah. “Masih ada lagi di mobilku, tunggu sebentar.” Miss Kingley bergegas menuju mobilnya yang diparkir di pinggir jalan komplek perumahan. Kakek Ian terheran-heran, untuk apa Miss Kingley memberikan semua ini? Memang sekarang yang amat dibutuhkannya adalah susu bayi, dan ia tak perlu berletih ria berjalan dua blok menuju mini market.

“Ini, ada lagi. Bisakah kau menolongku?” Miss Kingley membawa beberapa kantong plastik putih lagi dari mobilnya. Ia terlihat kepayahan berusaha agar barang-barang yang dibawanya tak bercecer. Kakek Ian tak berkata apa-apa, hanya memandangi plastik-plastik itu satu per satu. Semua plastik itu berisi kebutuhan sehari-hari, kebanyakan berisi makanan biasa dan makanan bayi.

“What do you mean, putting all these stuffs here?” Kakek Ian bertanya dengan suara pelan. Ia masih ragu untuk mengucapkan terima kasih, takut-takut barang ini salah peruntukan.

“Jelas, ini semua untukmu, Grandpa. Dan Richard, dan juga bayi-bayi itu. Ini juga sebagai permintaan maafku karena tidak datang ke pemakaman. Aku harus membantu dua persalinan pagi ini. Mana bayi-bayi itu, Sir?”

“Mereka sedang di kamar bayi bersama Richard. Lihatlah mereka jika kau mau, kamarnya ada di ujung sana. Ngomong-ngomong, terimakasih ya. Kami memang sangat membutuhkannya.” Kakek Ian membawa seluruh kantong-kantong itu ke dapur, sementara Miss Kingley pergi menuju kamar bayi yang terletak di ujung.

Krieeett, pintu berdecit pelan saat Miss Kingley membukanya. Suara itu tak terdengar oleh Richard yang sedang bersenandung sendu di kursi goyang. Di pangkuannya Gabriel dan Gabriela sedang mendengarkan senduan ayahnya dengan tenang. Keduanya tak tertidur, mata mereka terbuka.

Sun, Moon, the nature is in the joy

Welcome ye two little angels, congrats to the newly father!

Fair twin, it is girl and boy

Lay so sweetly in my arms, none can bother their slumber.

Hark to me, the sleepless babies

Here thou pay no heed on the surrounding

Just sit, lay, and sleep my little kins

Let you be mesmerized by tale of Twilight Days

There was a twin, once upon a time

Their life was a sad story, so few may knew

When excellence flamed a fire of spite

The Rope, which humble folks named the story

For they have heard, a twin was born in the depth of wood

From the lip of their fading mother, their name was unsaid

So the Mother Nature named them, Soleil and Lune

Beheld their so fair beautiness, even stars were in envy

Soleil grew as a handsome man, Lune was strikingly beautiful

Flawless, faultless, Children of the Nature

No, no, they were just too amazing

So mighty Deities desired and claimed for their beauty, along with the soul

Alas! Poor was the winter in the Yule Morning

For what a lumberjack has seen

Tracks of blood blotted snowy forest floor

Kept tracking, oh he was taken aback

Two bodies dangled in silence over a tree

Tied in silver rope their limbs, mortally agonized

No more Soleil and Lune, the fairest being

Fashioned to be finished

“The Rope? Yang benar saja, Richard. Itu bukan cerita untuk bayi.” Miss Kingley memasuki kamar bayi.

“Mereka tak mengerti apa yang kuceritakan. Lagipula, hanya itu dongeng yang aku tahu. Lama ayahku menceritakan dongeng ini. Aku selalu menolak ketika ia mulai cerita, indah namun berakhir menyedihkan.”

“Namun bayi dapat melihat gerak bibir. Oh ya, aku bawa keperluan untuk Gabriel dan Gabriela. Ada susu bayi, makanan, dan…”

“Terima kasih,” Richard menyunggingkan senyum kepada Miss Kingley. “Entahlah, tapi kau benar-benar mengerti kami.”

“Ya, dan aku janji akan tetap mengurus bayi-bayi itu, terutama Gabriel. Tolonglah ia.” Richard memelas. Miss Kingley tak kuasa berkata apa-apa. Ia hanya seorang dokter yang bertugas untuk membantu persalinan, lebih dari itu ia tak mampu.

***